Ina
Dari jauh hari, di wag sudah dikabarin kalo bakalan ada temu alumni dalam rangka Lustrum FH Undip ke-12. Berikut rangkaian acaranya:
  1. Sharing Profesi Hukum antara alumni dan mahasiswa FH Undip, “How to be a good legal practitioner”, Sabtu, 29 April 2017 Pukul 09.00 WIB – 15.00 WIB
  2. Temu alumni dan FH Undip Award, Sabtu, 29 April 2017, Pukul 19.00 WIB s.d. selesai
  3. Fun Walk, senam masal dan donor darah, Minggu, 30 April 2017 Pukul 06.00 WIB – selesai



Nah dari serangkaian acara tersebut, dengan berbagai pertimbangan saya hanya mengikuti acara fun walk. Pengisi acara fun walk ini dimeriahkan oleh Katon Bagaskara, Sandra Tobing, Nia Daniati, Rita Dinah Kandi, Ndang ndut Semarangan serta berbagai macam Door prize seperti kulkas, 3 sepeda motor, tv, hp, dll banyak banget.

Saya dan keluarga sengaja menginap di tempat kakak di daerah Pedurungan. Dari rumah si kakak untuk menuju ke FH Undip Tembalang cukup menghabiskan setengah jam saja lewat jalan tol. Lumayan bingung juga ketika sampai ke pintu gerbang Undip Tembalang. Maklum, saya dan suami termasuk mahasiswa yang nggak sempat merasakan berkuliah di wilayah Tembalang. Dengan berbekal GPS akhirnya sampailah saya di … fakultas kedokteran hahaha. Gimana ini sih gps nya. Sepertinya siih, papan nama menuju FH Undip ga nampak jelas. Akhirnya pakai cara pamungkas, tanya sama satpam yang bertugas.
ibu terus saja, lalu ke kiri, ikuti mobil yang di depan bu..”. Walaah ternyata banyak juga yang bingung.
Sembari ber wassap-an dengan  Fifi, salah seorang teman 1 angkatan noceng. Ternyata, dia sudah sampai duluan diantar dengan adiknya yang lulusan fresh graduated FH Undip juga. Pantes, ga pake nyasar. Begitu ketemu di area stand Honda, huwaaaa hebboh sendiri. Kangen juga ternyata. Daan harus poto donk.. kawan lama banget ga bersua. 

Habis itu, ketemu 1 lagi yg angkatan noceng, ada Aji sang avocado eh advocat.  Ga lama, Fifi ngajakin kami ke dalam kampus untuk ketemu Mira yang jadi dosen FH Agraria. Waah kalem banget bu dosen ini. Tersepona aku. Foto lagi doonk, pose.

Ohya, kesana kemari, saya disertai rombongan, suami dan si no 3 dan 4. Senengnya saya, mereka bisa kooperatif :D . Walo anak-anak sempet minta dibeliin mainan dulu di abang-abang jualan mainan, yang tahuu aja ada kumpulan manusia kayak gitu itu pasti banyak anak kecil. Laris manis deh si abang.
Singkat cerita, si Aji ditelpon Merry, musti pergi bareng-bareng ke tempat temen untuk ngambil kaos-kaos kita semua. Dan tinggallah kami bertiga. Tak lama Fifi pamit karena musti ada urusan dan ngejar kereta api jam 12. Yaah seddih deeeh. Trus ternyata gegara asik ngobrol, fun walk nya sudah dimulai. Setelah dikasih sticker peserta sama mbak panitia, kita turun mau siap-siap walk dengan fun. Eeeh.. tahunya sudah ketinggalan sodara-sodara
Fun Walk dibuka oleh Bapak Arief, sang Ketua MK

Tanya arah sama mbak-mbak dan mas-mas petugas. Tapi dipikir-pikir, kasihan lah anak-anak. Akhirnya saya dan keluarga balik lagi ke dekat panggung dan duduk manis di kursi. Sembari nunggu yang jalan, ternyata hidangan soto sudah siaap. Akhirnya dengan tidak tahu malu, saya bertanya,
“Bu bu .. sudah boleh makan soto belum ya?”.
“Oh ya, ya silakan..”.
Ternyata, Di belakang kami, sudah ngikut bapak polisi dan para petugas untuk makan soto juga hahaha. Alhamdulillah lumayan, anak-anak ga kelaperan. Dapat tempat duduk dan sarapan. Setelah beberapa saat, yang fun walk sedikit demi sedikit sampai di garis finish. Mereka dapat kotak snack dan susu, kita enggak, kasian deh. Salah sendiri napa ga jalan. Yang bikin agak segen adalah… mereka kebanyakan para alumni yang senior banget. Maklum lah ini kan acara temu alumni berbagai angkatan. Diihat-lihat siih, memang kebanyakan di dominasi angkatan tua. Mungkin, sebagian mereka juga banyak yang jadi donator kali ya, sotoy. Sempet ketemu sama angkatan 99.  Trus malah si abinya anak-anak yang ngeh kalo ada Ketua PN Jakarta Barat dan tentunya dosen-dosen lain yang kami hanya melihat dari kejauhan.
Tak lama, muncul lah para penyanyi. Nah ketika Nia Daniati mulai nyanyi itu lah, pak Arif Hidayat, ketua MK, dan para dosen-dosen senior menempatkan diri di tempat duduk terdepan. Teringat, si pak Arif dosen HTN (Hukum Tata Negara) ini selalu bercanda bahwa beliau adalah keturunan raja-raja, yang kalo butuh duwit, tinggal nowel dikit warisan emasnya haha.
Akhirnya, kami putuskan untuk melihat-lihat stand bazar sambil jajan. Dan, Meri, bu Dosen Unsri pun muncul membawa kaos merah, bersama Dirga-legal nya telkomsel dan Aji. Foto-foto…
Dengan background panggung gembira yang lagi bagi-bagi doorprizes

Ga lama, Mira sang panitia yang sibuk mondar mandir, muncul di depan kami, pas bangeeet. Foto-foto lagi. 


Kita semua diambilin kupon undian doorprize. Dan Meri pun request makan, secara dari pagi sibuk wara wiri kesana kemari. Akhirnya kita semua dikasih akses makan di dalam. Tak lupa juga rombongan keluarga sayah pastinyah. Tenkiyuuu Mira. Habis makan, kitaa … poto-poto lagi.

Salutnya sayah dengan suami sayah tercintah, mau nganterin ke acara ini dan sambil taking care bareng si no 3 dan no 4. Luv u zauji…
Oke, setelah waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB, kayaknya sudah bisa pulang kali ya. Akhirnya saya pamit dengan teman-teman. But, wait a second, no undian kita ternyata disebut sama MC. Hurray .. Alhamdulillah … dapeet setrika. Foto-foto lagii… 
Muttaqi si bungsu sudah ngantuk.. mau pulang :D 

dan akhirnya saya sekeluarga pamit beneran. Seneng bangeeet .. nice to see u all… semoga semuanya selalu diberikan kesehatan lahir batin, kebahagiaan dunia wal akhirat beserta keluarga tercintahnya.
Hidup recht 2k …


Ina
Nothing makes you feel younger than being with those who knew you when you were actually younger. Katanya siih …
Tapi, ketemuan sama temen-temen kemarin, membuat saya sadar, semuanya sudah menua bersama-sama 😃.
Pada hari Minggu, 23 April 2017 yang lalu telah diselenggarakan *tsah* .. Reuni part 2 angkatan 2000 Smunsade yang dirangkai dalam acara sosial donor darah dan bazar. Kenapa part 2? Ya karena ini memang kali kedua reuni diadakan setelah terbentuknya wa group. Setelah pertemuan part 1 yang tidak saya ikuti, saya cukup bersyukur dan gembira bisa ikut hadir dalam acara kemarin.
Acara dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Sembari menunggu petugas PMI yang datang untuk melakukan donor, kami saling bercerita dan bertukar pengalaman serta harapan untuk kemajuan kita bersama. Tidak sedikit teman yang mempunyai bisnis kuliner. Ternyata, salah satu strategi dalam menaikkan omzet adalah dengan cara bergabung dan aktif di berbagai komunitas. Dengan adanya komunitas yang diikuti maka bisnis apapun itu akan lebih menjadi dikenal dan peluang untuk menarik customer lebih banyak lagi.
Menyenangkan bertemu teman lama. Dari percakapan kami, saya sadar bahwa kami telah berubah. Dahulu, sering kami tidak bisa menahan ego dan mungkin kurang peduli. Kini, kami sudah dewasa. Bahkan kami semua kebanyakan sudah menjadi orangtua bagi anak-anak kami. Mau tidak mau, waktu dan pengalaman hidup yang telah kami jalani, telah menjadikan kami belajar untuk bijaksana. Belajar untuk tidak berpikir pendek, namun berpikir panjang untuk masa depan. Belajar untuk tidak memikirkan kepentingan sendiri, tapi juga kepentingan orang-orang yang ada di sekitar kita. Belajar menyayangi berarti rela untuk berkorban.
Lucu juga siih, si A yang dulu sesuka hati, kini menjadi ayah yang penuh cinta kasih dan bertanggungjawab kepada anak dan istrinya. Si B yang dulu sepertinya eksklusif menjadi lebih merangkul semuanya. Si C yang tidak percaya diri, menjadi sosok yang memukau. Si D yang secara akademis just average, namun omzet bisnisnya luar biasa. Macem-macem deh… so don’t judge someone from their past. People change guys … change to be better.
Dan perubahan yang paling penting adalah kematangan pribadi dan pengamalan ilmu yang dimiliki. Seseorang yang bijaksana akan lebih memahami perbedaan, lebih solutif ketika menemukan masalah, lebih menerima ketika mendapat masukan, lebih memunyai sikap membangun daripada merendahkan, tak segan berkata maaf dan minta tolong ketika butuh bantuan. Well kita semua bukan malaikat yang selalu baik dan tak pernah salah. Tapi setidaknya kita mencoba melakukan yang terbaik.
Walaah eyke serius bingit yaa jadinya. Kayaknya sudah tuwir banget gituh.
Oh ya, donor darah kali ini ternyata tidak sebanyak reuni part 1 yang lalu. Kemungkinan pada hari yang sama banyak acara lain yang harus diikuti oleh teman-teman. Secara kemarin itu long weekend juga, jadi banyak yang ada agenda ke luar kota.
Dalam reuni ini, juga hadir beberapa guru smunsade. Dan ada kenang-kenang-an yang kita berikan untuk pihak sekolah, walo diberikan bukan pada hari yang sama.

Oke deh .. sukses untuk semuanyaa …

Nice to see u all …


Ina
Memasuki bulan April, merupakan bulan dimana anak-anak sekolah mulai disibukkan mencari kostum kebaya. Buat apa lagi, kalo bukan untuk memperingati hari Kartini. Pada tahun ini, dunia perfilm-an juga tidak mau ketinggalan. Pada tanggal 21 Maret 2017 lalu telah launching official trailer, soundtrack dan website film Kartini, yang segera tayang perdana pada tanggal 19 April 2017. Film berjudul "KARTINI" merupakan film biopic tentang tokoh pahlawan wanita dari Indonesia R. A Kartini. Film ini diarahkan oleh Hanung Bramatyo, sutradara yang sebelumnya pernah mengarahkan film biopic tentang Soekarno. Film ini dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo sebagai tokoh utama dan artis lain seperti Acha Septriasa, Adinia Wirasti, Deddy Sutomo dll.

Namun kali ini saya tidak ingin mereview tentang film yang lagi happening di instagram ini. Saya akan menceritakan napak tilas perjuangan Kartini melalui kunjungan saya ke museum Kartini pada hari Sabtu, 15 April 2017. 
Di Indonesia, ada dua museum RA Kartini, yaitu di Jepara dan di Rembang. Untuk yang di Jepara lebih bercerita pada masa Kartini sebelum menikah, sedangkan di Rembang bercerita tentang  masa Kartini setelah menikah dan menghabiskan sisa hidupnya.
Nah, kali ini saya mengunjungi museum Kartini yang berada di Rembang.
Museum RA Kartini Rembang terletak di Jalan Gatot Subroto No. 8, Rembang. Bangunan yang didominasi warna hijau putih ini ternyata menyimpan  koleksi  barang pribadi milik RA Kartini, seperti  tempat tidur, tempat jamu, meja makan, mesin jahit, lesung, cermin rias, meja untuk menulis dan juga meja untuk merawat bayi.
Di sebelah timur museum terdapat gedung sekolah wanita yang didirikan oleh Kartini untuk mengajar rakyat pribumi. Berkat kegigihannya, Kartini mampu mendirikan sekolah wanita di beberapa daerah dengan nama Sekolah Kartini.
Bangunan museum Kartini sangat sederhana. Berasal dari bangunan rumah dinas bupati Rembang, dimana beliau tinggal bersama suaminya yang seorang bupati Rembang yaitu Raden Adipati Djojodiningrat. Rumah joglo, khas jawa, bertempat di dekat alun-alun Rembang. Posisi yang khas dan prototype dimana pusat pemerintahan berada di dekat lapangan/alun-alun kota. 
Berkunjung ke museum ini merupakan refreshing sederhana dan murah meriah banget. Hanya cukup membayar tiket Rp. 2000,00 saja. Walau murah tapi ga murahan lhoo.. Bangunan museum ini memang terlihat kuno banget, karena masih mempertahankan bangunan fisik sesuai aslinya. Namun di dalamnya syarat makna. Terlebih ketika kita masuk ke dalam dan membaca tulisan-tulisan Kartini dilengkapi dengan foto-foto. Wow... dalem banget maknanya. Beberapa hal banyak yang terkait gender, kekuatan jati diri, persaudaraan, persahabatan dan bahkan tentang parenting. Tak salah akhirnya kemudian terbitlah buku  yang diprakarsai oleh J.H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, yang awalnya berjudul 'Door Duisternis tot Licht'. Kemudian buku tersebut diterjemahkan dengan judul Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang terbit pada tahun 1911. Buku tersebut dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan kelima terdapat surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Dan pada akhirnya buku tersebut lebih dikenal dengan nama "habis gelap terbitlah terang".
Kartini aktif melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berada di Eropa ketika itu, terlebih kepada Nyonya Rosa Abendanon. Di surat-surat tersebut, Kartini mencurahkan keinginan dan cita-citanya, tentang pergolakan jiwa, tentang kebahagiaan dan kesedihan yang dialami oleh Kartini.
Tempat tinta dan tempat surat RA Kartini

Dari tulisan-tulisan di surat tersebut, terlihat karakter seorang Kartini sebagai sosok yang cerdas dan berani. Hal yang sangat jarang ditemui oleh perempuan-perempuan di masa itu. 
Oke, balik lagi ke museum. Rumah yang menjadi museum itu terdiri dari beberapa ruangan. Yang masing-masing diberi nama.
Di ruang depan/ruang tamu terletak silsilah Kartini. Papan silsilah ini menunjukkan bahwa Kartini dilahirkan pada 21 April tahun 1879 dan wafat pada 17 September 1904. Jadi dalam usia 25 tahun, beliau menorehkan banyak cerita yang akhirnya menjadikannya seorang pahlawan nasional. Beliau wafat tidak lama setelah melahirkan anaknya yang pertama yang bernama RM. Soesalit. Disana terpampang ukiran besar di dinding yang menggambarkan potret keluarga Kartini. Ukiran kayu yang cukup besar yang menggambarkan keluarga Kartini dan suami. Dimana posisi Kartini ada di sebelah kanan suaminya.








Lanjut ke kamar utama, tempat Kartini beristirahat. Di kamar yang berada si sebelah kiri. Disana terdapat satu ranjang kayu berukir. Ranjang kayu ini terdapat tempat penyimpanan buku-buku di bagian bawahnya. Kemudian, ada meja berbentuk persegi panjang dengan marmer pada bagian atasnya. Meja ini berfungsi untuk merawat bayi. Selain itu ada satu meja rias berbentuk hampir seperti trapesium, yang pada bagian lebarnya tidak lurus, melainkan cembung. Seperti juga meja untuk merawat bayi, meja ini pun menggunakan marmer berwarna putih pada bagian atasnya. Di atas meja rias tersebut terdapat cermin berbentuk lingkaran yang digantungkan pada dinding.


Di kamar-kamar lain telah disulap menjadi ruangan-ruangan yang menampilkan foto diri Kartini bersama keluarga, khususnya potret Kartini bersama 2 saudarinya yaitu Kardinah dan Roekmini. Ada foto yang khusus diambil di studio di Semarang, ketika menjelang saudarinya akan menikah. Ada juga foto 3 saudari tersebut memakai pakaian jepang. Persaudaraan mereka Nampak sangat erat. Bahkan Kartini menggambarkan 3 saudari ini dalam bentuk lukisan 3 angsa. 

Pemikiran R.A. Kartini

Ayahnya menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar Bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga ia berusia 12 tahun. An unusual accomplishment for Javanese women at the time. Namun setelah itu, Kartini berhenti melanjutkan pendidikan, ketika itu menurut kebiasaan anak perempuan harus tinggal dirumah untuk 'dipingit', to prepare young girls for their marriage.
Meskipun berada di rumah, R.A Kartini aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda sebab beliau juga fasih dalam berbahasa Belanda. Dari sinilah kemudian, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku yang ia baca.

R.A Kartini banyak membaca surat kabar atau majalah-majalah kebudayaan eropa yang menjadi langganannya yang berbahasa belanda, di usianya yang ke 20, ia bahkan banyak membaca buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt serta berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa belanda, selain itu ia juga membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta.

Hingga kemudian ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi tapi tetap menjaga jati diri perempuan indonesia, sebab dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu. 
 

Sejarah mengatakan bahwa Kartini diizinkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang guru sesuai dengan cita-cita namun ia dilarang untuk melanjutkan studinya untuk belajar di Batavia ataupun ke Negeri Belanda. Kesedihan ini tertulis dalam surat yang dikirimkannya.
Kartini merasakan dia adalah seekor harimau yang berada di dalam sangkar

Hingga pada akhirnya, ia tidak dapat melanjutkan cita-citanya baik belajar menjadi guru di Batavia atau pun kuliah di negeri Belanda meskipun ketika itu ia menerima beasiswa untuk belajar kesana sebab pada tahun 1903 pada saat R.A Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri. At this time, polygamy was a common practice among the nobility.


Namun saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Alquran yang dihadiahkan untuk Kartini

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.

Ketika beliau sedang mengandung anaknya, orang-orang di sekitarnya berharap bahwa beliau akan melahirkan seorang anak laki-laki. Beliau menuliskan kegelisahannya sebagai seorang calon ibu.


Dari pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, R.A Kartini kemudian melahirkan anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Namun 4 (empat) hari kemudian setelah melahirkan anaknya yang pertama, R.A Kartini kemudian wafat pada tanggal 17 September 1904 di usianya yang masih sangat muda yaitu 25 tahun. Beliau kemudian dikebumikan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.

Berkat perjuangannya kemudian pada tahun 1912, berdirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang kemudian meluas ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya. Sekolah tersebut kemudian diberi nama "Sekolah Kartini" untuk menghormati jasa-jasanya. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di era kolonial Belanda.

Pemikirannya banyak mengubah pola pikir masyarakat belanda terhadap wanita pribumi ketika itu. Tulisan-tulisannya juga menjadi inspirasi bagi para tokoh-tokoh Indonesia kala itu seperti W.R Soepratman yang kemudian membuat lagu yang berjudul 'Ibu Kita Kartini'.
Berikut beberapa tulisan yang saya abadikan,




Ina

Setiap manusia secara fitrah mempunyai keinginan. Sudah punya ini, pengen itu. Pengen yang lebih dan lebih lagi.
Cara yang paling gratis dan indah adalah berdoa. Berdoa, meminta kepada yang Maha Kaya.
Tapi bahkan dalam berdoa, kita perlu strategi. Terbesit ragu, Apakah bisa doa hamba yg hina seperti kita begitu saja dapat dikabulkan oleh-Nya?
Maka, carilah orang-orang yang mempunyai hajat yang sama dengan kita. Doakan bahwa mereka akan memperoleh apa yang mereka minta. Maka, sebagaimana janji Allah. Allah akan memerintahkan malaikat untuk mendoakan kita sebagaimana doa kita kepada yang kita doakan.
Doa kita dibandingkan doa malaikat hebat mana hayyo?
Dan setidaknya, dengan doa yg kita mintakan untuk orang lain ada hal kebaikan dari kita. Bahwa kita bisa menghapus rasa hasad. Indahnya.
Apa itu hasad? Kata hasad berasal dari bahasa Arab yang berarti iri, dengki. Iri berarti merasa kurang senang dan cemburu melihat orang lain beruntung atau mendapatkan suatu kesenangan. Iri juga salah satu bentuk gangguan mental karena semakin banyak melihat orang lain senang, maka semakin gelisah pula hatinya.
Untuk itu misalnya niih, kita punya hajat/keinginan untuk mempunyai rumah yg nyaman dan indah. Kita doakan juga org yg punya keinginan yg sama dg kita.
Kita ingin suatu jabatan. Maka kita doakan secara tulus juga org yg mempunyai hajat yg sama.
Kita masih jomblo dan ingin mendapat pasangan. Maka carilah pesaing2 kita. Doakan mereka mendapatkan pasangan terbaik.

Kita buktikan rasa cinta sesama saudara muslim melalui doa-doa.
Kita sudah berhasil menghilangkan rasa hasad. Doa malaikat juga terpanjat.
*habis dengerin ceramah di yufid.
Ina
Masyaallah... gadis kecil ku di tengah sakit cacar nya yg mulai pulih. Dia membuat menu camilan sendiri, pisang coklat keju yummy. Kejunya banyak bgt. Ya dia gadis keju.
Langsung ludes deh...
Ketika ummi nya minta,
"Hati-hati lho, nanti ummi ketularan Ahza"
"Wah, nak kita semua kan sudah kena cacar berjamaah hehe..."
Yaps, minggu kmrn adalah minggu bedrest. Di rumah aja. Berurutan kami kena cacar. Dari si abang Muaiqly yang terjangkit ketika sedang uts. Ketika sudah 1 minggu lewat, dipikir sudah aman untuk tidak mengisolasi si abang. Ternyata akhirnya setelah masa 2 minggu, gantian si bungsu yg kena. Dan akhirnya emaknya kena. Padahal sudah konsumsi imboost. Ga ngira kena cacar pada umur segini. Tak lama si emak kena sekitar 3 harian, gantian kakak Ahza. Si kakak sulung langsung lari ngacir, takut kena. Secara hari Sabtu nya ada acara jalan2 dengan sekolahnya. Dan ternyata, alhamdulillah, kakak Nabila hebat. Acara jalan2 nya sukses.
Alhamdulillah semua karena pertolongan Allah. Cacar nya kami ga banyak2. Paling banyak kena ya si abang Muaiqly dan kakak Ahza. Sekarang cacar kak Ahza sudah mulai kering. Tetap ceriaa...
Sepertinya sudah mulai rindu sekolah. Semoga ntar bila waktunya kembali sekolah, sudah makin fit stamina dan semangatnya.


Resep obat :

Minum parasetamol utk panasnya.
Acyclovire tablet 200 mg 3 s.d 5 x dalam sehari.

Imunos utk daya tahan tubuh.
Bedak utk ditaruh di badan yg kena cacar. Kalo di wajah, dikasih salep acyclovire.
Sembari makan degan campur madu juga.
Kmrn ada yang saranin mandi dengan sabun pisohex. Tapi ga dapat sabun nya di apotik.
Trus ga boleh mandi. Di sibinin aja. 
Alhamdulillah deh ...
Ina
Membersamai anak-anak beberapa hari ini masuk seleksi pesantren dan sekolah membuat saya semakin sadar bahwa setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apapun dilakukan semampu yang orangtua bisa.
Bertemu dengan sesama orangtua, berbagi kekhawatiran dan harapan untuk anak2 dalam menjalani masa depan mereka, membuat saya makin sadar, bahwa setiap anak sangatlah spesial. Jangan gampang menjudge anak-anak orang lain. Di belakang seorang anak ada harapan dan doa2 yang selalu dipanjatkan orangtuanya. Ada cinta kasih yang senantiasa tercurah. Walau mungkin kasih sayang orangtua terwujud dalam bentuk dan hal yang berbeda.

Ada yg mewujudkannya dengan selalu membersamai anak dalam setiap waktu. Ada yg membiarkannya mandiri. Ada yg selalu memberikan apapun yang diminta, ada yang tidak. Ada yang suka memotivasi dengan pujian, ada yang suka memotivasi dengan tantangan.
Macem2...

Bertemu dengan para ibu dari anak2 itu, membuat saya merasa blm menjadi ibu yg solihah. Masih jauuuh ...
Punya anak berjumlah 4 harusnya makin berpengalaman menangani anak. Tapi semakin kesini ternyata kesabaran mengalami degradasi. 
Teori anak tantrum, teori anak merajuk, teori parenting apalah apalah. Kadang bisa mulus saya terapkan. Tapi kadang juga reflek saya lupakan. Marah marah saya lakukan. Menambah volume suara.. teriakan terjadi secara spontan.
Kadang saya merasa lelah ... 
Mungkin ini cara Allah memberi saya pahala. Mungkin ini cara Allah sedikiiiiit menghapus dosa2 banyaaaaak saya di waktu silam. Mungkin.... yang saya tahu... saya suka ke GR an bahwa Allah juga sayang dengan saya. Cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Cuman saya ini hambaNya yang tidak tahu diri. Sudah tahuuu kalo ibadah selaras dengan realitas. Makin banyaaaak ibadah... makin tenang menghadapi segala tingkah polah. Dan ketika tenang... sikap dan cara yang kita ambil akan lebih mengena dan bijaksana.
Maunya saya sbg ibu, anak2 itu nurut kalo dikasih tahu. Nurut kalo di suruh ini dan itu. Nurut kalo kadang kala ga dikabulkan keinginan2 mereka. Nurut jadi anak solih/ah, sopan, pinter dan baik2 yg lain.
Tapi saya sebagai ibu juga begini2 aja. 
Duuh Ya Allah... pd akhirnya kok saya sendiri yg merasa bersalah. Padahal tadinya mau ngeluh, kok anakku yg nomor ini begini siih padahal biasanya begitu. Kok si bungsu pake tantrum siih, tumben. Kok mereka berantem?. Kok mereka nangis bareng2?. Kok mereka kompak berantakin ruangan? Kok mereka bikin jengkel? Kok kok... kok gitu siih...
Ternyata ternyata ...
Wahai anak2ku maafkan ibu mu ...

*kata 'kok' bisa berarti kata 'kenapa' yang cenderung sebenernya kita sudah tahu tapi tetep nanya.
Ina
Tulisan berikut adalah copas-an dari sebuah situs, dengan tambahan respon spontan dari saya. Sekedar selfreminder yang mencoba membangkitkan semangat jiwa saya agar selalu menyala-nyala.

Alkisah, ada seorang ibu muda yang menapakkan kakinya di jalan kehidupan. “Jauhkah perjalanannya?” tanyanya. Dan si pemandu menjawab, “Ya, jalurnya berat. Dan kau akan menjadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan. Tapi akhir perjalanan akan lebih baik dari awalnya.”

~ What? tuwaa?... rasanya ga mau kalo dibilang tua. But, wait ... baca dulu hingga akhir.

Ibu muda itu tampak berbahagia, tapi dia tidak begitu percaya kalau segala sesuatunya bisa lebih baik dari masa-masa yang sudah dilewatinya. Ibu itu pun bermain-main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga bagi mereka di sepanjang perjalanan, memandikan mereka di sungai yang jernih. Mereka bermandikan sinar matahari yang hangat. Ibu muda itu bersuara kencang, “Tidak ada yang lebih indah dari ini.”

~ Saya merasa saya adalah ibu muda itu. Masih terus belajar menjadi teman yang baik bagi anak-anak. Kelucuan dan keluguan mereka sejak dari awal telah membuat saya terpesona. Bermain dengan mereka, mendengar celotehan dan tawa mereka, membuat saya bahagia.

Ketika malam tiba, terjadi badai yang membuat jalanan menjadi gelap. Anak-anak bergetar ketakutan dan kedinginan. Sang ibu mendekap anak-anak dan menyelimuti mereka dengan mantelnya. Anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak takut karena engkau ada di dekat kami. Karena ada ibu, kami tidak akan terluka.”
Esok paginya, ibu dan anak-anaknya mendaki sebuah bukit. Lama-kelamaan mereka menjadi lelah. Namun, sang ibu selalu berkata pada anak-anaknya, “Sabarlah sedikit lagi, kita pasti akan sampai.” Kata-kata itu cukup membuat anak-anak bersemangat kembali untuk melanjutkan pendakian mereka. Dan ketika akhirnya tiba di atas bukit, anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak akan bisa sampai di sini tanpamu.”

~ Ada masa-masa sulit yang saya lalui bersama anak-anak. Seperti saat ini, ketika saya harus tinggal sendiri beserta 4 anak saya. Sedangkan ayah mereka tercinta harus bertugas di tempat yang berbeda. Kami bertemu seminggu sekali. Itupun, saya merasakan betul kelelahan si ayah. Jarak yang tidak dekat, menguras tenaga, waktu dan biaya. Saya tahu betul, dia telah mencoba sebesar kemampuan yang dia bisa.
Kami semua sama-sama mencoba upaya sebaik yang kami bisa. Sabaaar ... ini hanya sementara. Kata saya mencoba menguatkan anak-anak dan juga pada diri saya sendiri.

Masa-masa transisi pindah sekolah anak-anak, dimana mereka membutuhkan ekstra perhatian. Saya mencoba membekali diri saya dengan kesiapan fisik dan mental yang lebih dari biasanya. Walau kadang tak kuasa menahan rasa sedih. Saya percaya, Allah memampukan saya, memampukan kami semua. Karena Allah lah saya merasa bisa. Hingga kemudian karena Allah jua lah, anak-anak yang membuat saya kuat menjalani ini semua. 
Tangisan si bungsu yang minta ditimang. Rengekan dan keluhan si no 3, no 2 dan si sulung. Semua pertanda bahwa mereka merasakan kasih sayang dan perlindungan yang saya berikan. Akhirnya, secara perlahan dengan waktu berjalan, anak-anak telah menemukan kenyamanan. Bisa karena biasa. Alhamdulillah kini bahkan si bungsu 2,5 th telah terbiasa di antar ke sekolah dengan keceriaan. Ada perasaan tenang ketika saya meninggalkannya dengan ucapan salam penuh senyuman dan bertemu dengan pelukan hangat ketika berjumpa kembali. 

Dan ketika berbaring di malam hari, sang ibu memandangi bintang-bintang dan mengucap syukur, “Hari ini lebih baik dari hari sebelumnya, karena anak-anak saya belajar bersikap tabah dalam menghadapi kesusahan. Kemarin, saya memberi mereka keberanian. Hari ini, saya memberi mereka kekuatan.”
Dan keesokan harinya, datang awan tebal yang menggelapkan bumi, awan peperangan, kebencian dan kejahatan. Membuat anak-anak itu tersandung dan terjatuh, tapi sang ibu berusaha menguatkan mereka, “Lihatlah ke arah cahaya kemuliaan itu.” Anak-anak itu pun menuruti. Di atas awan terlihat cahaya yang bersinar sangat terang, dan cahaya itulah yang membimbing mereka melewati kegelapan itu. Malam itu berkatalah sang ibu, “Inilah hari yang terbaik. Karena saya sudah menunjukkan Tuhan pada anak-anak saya.”

~ Melihat ke-empat anak saya, mereka tumbuh dan besar dengan baik. Belajar ilmu agama dan akademik layaknya anak-anak seusia mereka. Rasa syukur tak hentinya senantiasa terucap. Ada kalanya mereka membuat saya sedih, marah, jengkel, sebel dan kecewa. Tapi, banyak hal pula yang membuat saya bahagia. Pencapaian prestasi mereka, kelemah lembutan akhlaq -well, ada kalanya berulah juga sih-, rasa kasih sayang persaudaraan mereka -sering berantem juga siiih-, dan lain sebagainya.

Hari pun berlalu dengan cepat, lalu berganti dengan minggu, bulan, dan tahun. Sang ibu pun mulai menua dan tubuhnya menjadi membungkuk. Sementara, anak-anaknya bertumbuh besar dan kuat, serta berjalan dengan langkah berani. Ketika jalan yang mereka lalui terasa berat, anak-anak itu akan mengangkat ibu mereka. Pada akhirnya sampailah mereka di sebuah bukit. Di atas sana, mereka bisa melihat sebuah jalan yang bercahaya dan gerbang emas dengan pintu terbuka lebar. Sang ibu berkata, “Ini sudah akhir perjalanan. Dan sekarang saya tahu, akhir perjalanan ini memang lebih baik daripada awalnya karena anak-anak saya bisa berjalan sendiri, dan begitupun cucu-cucu saya.”

~ Oh Ya rabb ... di tahap ini, saya teringat akan ibu saya. Betapa tak terhitung sudah pengorbanan yang beliau lakukan. Bahkan hingga detik ini, kami semua sudah beranak pinak. Saya percaya, apa yang telah saya raih saat ini adalah perwujudan doa-doanya. Hiks ... jadi sediiih .... dleweran deh... Terimakasih ibu ku sayaaang ...


Alhamdulillah ... tulisan di atas mengembalikan semangat yang sedikit memudar. Dan akhirnya, semua selalu kembali pada suatu kesimpulan bahwa semua hal yang terjadi adalah atas kuasa dan kehendak Allah. Ada Allah bersama kita. Hanya Dia lah, tempat kita menggantungkan segalanya. 
So ... tersenyumlah ... innallaha ma'ana.