Ina
Membersamai anak-anak beberapa hari ini masuk seleksi pesantren dan sekolah membuat saya semakin sadar bahwa setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Apapun dilakukan semampu yang orangtua bisa.
Bertemu dengan sesama orangtua, berbagi kekhawatiran dan harapan untuk anak2 dalam menjalani masa depan mereka, membuat saya makin sadar, bahwa setiap anak sangatlah spesial. Jangan gampang menjudge anak-anak orang lain. Di belakang seorang anak ada harapan dan doa2 yang selalu dipanjatkan orangtuanya. Ada cinta kasih yang senantiasa tercurah. Walau mungkin kasih sayang orangtua terwujud dalam bentuk dan hal yang berbeda.

Ada yg mewujudkannya dengan selalu membersamai anak dalam setiap waktu. Ada yg membiarkannya mandiri. Ada yg selalu memberikan apapun yang diminta, ada yang tidak. Ada yang suka memotivasi dengan pujian, ada yang suka memotivasi dengan tantangan.
Macem2...

Bertemu dengan para ibu dari anak2 itu, membuat saya merasa blm menjadi ibu yg solihah. Masih jauuuh ...
Punya anak berjumlah 4 harusnya makin berpengalaman menangani anak. Tapi semakin kesini ternyata kesabaran mengalami degradasi. 
Teori anak tantrum, teori anak merajuk, teori parenting apalah apalah. Kadang bisa mulus saya terapkan. Tapi kadang juga reflek saya lupakan. Marah marah saya lakukan. Menambah volume suara.. teriakan terjadi secara spontan.
Kadang saya merasa lelah ... 
Mungkin ini cara Allah memberi saya pahala. Mungkin ini cara Allah sedikiiiiit menghapus dosa2 banyaaaaak saya di waktu silam. Mungkin.... yang saya tahu... saya suka ke GR an bahwa Allah juga sayang dengan saya. Cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Cuman saya ini hambaNya yang tidak tahu diri. Sudah tahuuu kalo ibadah selaras dengan realitas. Makin banyaaaak ibadah... makin tenang menghadapi segala tingkah polah. Dan ketika tenang... sikap dan cara yang kita ambil akan lebih mengena dan bijaksana.
Maunya saya sbg ibu, anak2 itu nurut kalo dikasih tahu. Nurut kalo di suruh ini dan itu. Nurut kalo kadang kala ga dikabulkan keinginan2 mereka. Nurut jadi anak solih/ah, sopan, pinter dan baik2 yg lain.
Tapi saya sebagai ibu juga begini2 aja. 
Duuh Ya Allah... pd akhirnya kok saya sendiri yg merasa bersalah. Padahal tadinya mau ngeluh, kok anakku yg nomor ini begini siih padahal biasanya begitu. Kok si bungsu pake tantrum siih, tumben. Kok mereka berantem?. Kok mereka nangis bareng2?. Kok mereka kompak berantakin ruangan? Kok mereka bikin jengkel? Kok kok... kok gitu siih...
Ternyata ternyata ...
Wahai anak2ku maafkan ibu mu ...

*kata 'kok' bisa berarti kata 'kenapa' yang cenderung sebenernya kita sudah tahu tapi tetep nanya.
0 Responses