Ina
Tulisan berikut adalah copas-an dari sebuah situs, dengan tambahan respon spontan dari saya. Sekedar selfreminder yang mencoba membangkitkan semangat jiwa saya agar selalu menyala-nyala.

Alkisah, ada seorang ibu muda yang menapakkan kakinya di jalan kehidupan. “Jauhkah perjalanannya?” tanyanya. Dan si pemandu menjawab, “Ya, jalurnya berat. Dan kau akan menjadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan. Tapi akhir perjalanan akan lebih baik dari awalnya.”

~ What? tuwaa?... rasanya ga mau kalo dibilang tua. But, wait ... baca dulu hingga akhir.

Ibu muda itu tampak berbahagia, tapi dia tidak begitu percaya kalau segala sesuatunya bisa lebih baik dari masa-masa yang sudah dilewatinya. Ibu itu pun bermain-main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga bagi mereka di sepanjang perjalanan, memandikan mereka di sungai yang jernih. Mereka bermandikan sinar matahari yang hangat. Ibu muda itu bersuara kencang, “Tidak ada yang lebih indah dari ini.”

~ Saya merasa saya adalah ibu muda itu. Masih terus belajar menjadi teman yang baik bagi anak-anak. Kelucuan dan keluguan mereka sejak dari awal telah membuat saya terpesona. Bermain dengan mereka, mendengar celotehan dan tawa mereka, membuat saya bahagia.

Ketika malam tiba, terjadi badai yang membuat jalanan menjadi gelap. Anak-anak bergetar ketakutan dan kedinginan. Sang ibu mendekap anak-anak dan menyelimuti mereka dengan mantelnya. Anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak takut karena engkau ada di dekat kami. Karena ada ibu, kami tidak akan terluka.”
Esok paginya, ibu dan anak-anaknya mendaki sebuah bukit. Lama-kelamaan mereka menjadi lelah. Namun, sang ibu selalu berkata pada anak-anaknya, “Sabarlah sedikit lagi, kita pasti akan sampai.” Kata-kata itu cukup membuat anak-anak bersemangat kembali untuk melanjutkan pendakian mereka. Dan ketika akhirnya tiba di atas bukit, anak-anak itu berkata, “Ibu, kami tidak akan bisa sampai di sini tanpamu.”

~ Ada masa-masa sulit yang saya lalui bersama anak-anak. Seperti saat ini, ketika saya harus tinggal sendiri beserta 4 anak saya. Sedangkan ayah mereka tercinta harus bertugas di tempat yang berbeda. Kami bertemu seminggu sekali. Itupun, saya merasakan betul kelelahan si ayah. Jarak yang tidak dekat, menguras tenaga, waktu dan biaya. Saya tahu betul, dia telah mencoba sebesar kemampuan yang dia bisa.
Kami semua sama-sama mencoba upaya sebaik yang kami bisa. Sabaaar ... ini hanya sementara. Kata saya mencoba menguatkan anak-anak dan juga pada diri saya sendiri.

Masa-masa transisi pindah sekolah anak-anak, dimana mereka membutuhkan ekstra perhatian. Saya mencoba membekali diri saya dengan kesiapan fisik dan mental yang lebih dari biasanya. Walau kadang tak kuasa menahan rasa sedih. Saya percaya, Allah memampukan saya, memampukan kami semua. Karena Allah lah saya merasa bisa. Hingga kemudian karena Allah jua lah, anak-anak yang membuat saya kuat menjalani ini semua. 
Tangisan si bungsu yang minta ditimang. Rengekan dan keluhan si no 3, no 2 dan si sulung. Semua pertanda bahwa mereka merasakan kasih sayang dan perlindungan yang saya berikan. Akhirnya, secara perlahan dengan waktu berjalan, anak-anak telah menemukan kenyamanan. Bisa karena biasa. Alhamdulillah kini bahkan si bungsu 2,5 th telah terbiasa di antar ke sekolah dengan keceriaan. Ada perasaan tenang ketika saya meninggalkannya dengan ucapan salam penuh senyuman dan bertemu dengan pelukan hangat ketika berjumpa kembali. 

Dan ketika berbaring di malam hari, sang ibu memandangi bintang-bintang dan mengucap syukur, “Hari ini lebih baik dari hari sebelumnya, karena anak-anak saya belajar bersikap tabah dalam menghadapi kesusahan. Kemarin, saya memberi mereka keberanian. Hari ini, saya memberi mereka kekuatan.”
Dan keesokan harinya, datang awan tebal yang menggelapkan bumi, awan peperangan, kebencian dan kejahatan. Membuat anak-anak itu tersandung dan terjatuh, tapi sang ibu berusaha menguatkan mereka, “Lihatlah ke arah cahaya kemuliaan itu.” Anak-anak itu pun menuruti. Di atas awan terlihat cahaya yang bersinar sangat terang, dan cahaya itulah yang membimbing mereka melewati kegelapan itu. Malam itu berkatalah sang ibu, “Inilah hari yang terbaik. Karena saya sudah menunjukkan Tuhan pada anak-anak saya.”

~ Melihat ke-empat anak saya, mereka tumbuh dan besar dengan baik. Belajar ilmu agama dan akademik layaknya anak-anak seusia mereka. Rasa syukur tak hentinya senantiasa terucap. Ada kalanya mereka membuat saya sedih, marah, jengkel, sebel dan kecewa. Tapi, banyak hal pula yang membuat saya bahagia. Pencapaian prestasi mereka, kelemah lembutan akhlaq -well, ada kalanya berulah juga sih-, rasa kasih sayang persaudaraan mereka -sering berantem juga siiih-, dan lain sebagainya.

Hari pun berlalu dengan cepat, lalu berganti dengan minggu, bulan, dan tahun. Sang ibu pun mulai menua dan tubuhnya menjadi membungkuk. Sementara, anak-anaknya bertumbuh besar dan kuat, serta berjalan dengan langkah berani. Ketika jalan yang mereka lalui terasa berat, anak-anak itu akan mengangkat ibu mereka. Pada akhirnya sampailah mereka di sebuah bukit. Di atas sana, mereka bisa melihat sebuah jalan yang bercahaya dan gerbang emas dengan pintu terbuka lebar. Sang ibu berkata, “Ini sudah akhir perjalanan. Dan sekarang saya tahu, akhir perjalanan ini memang lebih baik daripada awalnya karena anak-anak saya bisa berjalan sendiri, dan begitupun cucu-cucu saya.”

~ Oh Ya rabb ... di tahap ini, saya teringat akan ibu saya. Betapa tak terhitung sudah pengorbanan yang beliau lakukan. Bahkan hingga detik ini, kami semua sudah beranak pinak. Saya percaya, apa yang telah saya raih saat ini adalah perwujudan doa-doanya. Hiks ... jadi sediiih .... dleweran deh... Terimakasih ibu ku sayaaang ...


Alhamdulillah ... tulisan di atas mengembalikan semangat yang sedikit memudar. Dan akhirnya, semua selalu kembali pada suatu kesimpulan bahwa semua hal yang terjadi adalah atas kuasa dan kehendak Allah. Ada Allah bersama kita. Hanya Dia lah, tempat kita menggantungkan segalanya. 
So ... tersenyumlah ... innallaha ma'ana.